Penilaian Kinerja Seseorang


Pengertian Penilaian Kinerja


Penilaian kinerja seseorang menurut Schuler dan Jackson (1999:11) salah satunya dapat dilihat berdasarkan hasil (output). Berdasarkan pendapat tersebut maka kinerja guru dapat dilihat melalui hasil (output) yang salah satunya adalah hasil prestasi siswa berupa nilai ujian atau sejenisnya. Fenomena yang terjadi berdasarkan data terbaru dari Bappenas (2010:13), menunjukkan masih banyaknya guru yang memiliki kemampuan yang rendah dalam memahami mata pelajaran yang diajarkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman guru untuk tiap mata pelajaran masing-masing sekitar 57 % (persen) sampai 77 % (persen), dan 45 % (persen) sampai 63% (persen). 
Akadum (2005:1-2) menilai bahwa rendahnya kinerja guru dapat disebabkan karena beberapa hal antara lain : (1) masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total, (2) rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi keguruan, (3) pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah hati dari pengambilan kebijakan dan pihak-pihak terlibat, (4) masih belum smooth-nya perbedaan tentang proporsi, materi ajar yang diberikan kepada calon guru, (5) masih belum berfungsinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai organisasi profesi yang berupaya secara maksimal meningkatkan profesionalisme anggotanya.
Sedangkan Ani. M. Hasan (2003:6) mengemukakan bahwa rendahnya profesionalisme guru disebabkan : (1) masih banyaknya guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh. Dalam hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya guru yang bekerja di luar jam kerjanya hal ini terjadi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari sehingga tidak ada waktu untuk membaca dan menulis atau melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan kemampuan diri; (2) belum adanya standar professional guru sebagaimana tuntutan di negara-negara maju: (3) kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan tinggi sebagai pencetak guru yang lulusannya asal jadi tanpa memperhitungkan output-nya kelak di lapangan sehingga menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi keguruan: (4) kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri karena guru tidak dituntut untuk meneliti sebagaimana yang diberlakukan pada dosen di perguruan tinggi. 
Reaksi: 

Related

Tesis 8836527347591318750

Posting Komentar

Layanan komentar untuk blog orangmajalengka. Silakan tulis komentar Anda di bawah

emo-but-icon

Follow Us

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item